Sabtu, 15 Desember 2012

PERSETERUAN DUA KLAN BESAR SAMURAI


Judul Buku      : Uesugi Kenshin
Penulis            : Eiji Yoshikawa
Penerbit          : Kansha Books
Tahun Terbit   : 2012
Tebal               : 388 halaman

Penyerbuan Takeda Shingen dan pasukannya terhadap Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin dari klan Echigo membuka lembaran kisah lama pertarungan dua daimyo dan klan terbesar pada zaman Sengoku Jidai. Penaklukan kawasan yang berujung tragedi berdarah itu kembali mempertemukan dua kelompok samurai ke dalam dunia kelam: perang.

Perang samurai, perlawanan kekuatan militer, pertarungan diplomasi, adu kecerdikan dan taktik, serta pertarungan strategi politik digunakan untuk melumpuhkan lawan. Dunia samurai mengenal Shingen (42) dan Negeri Koshu sebagai daimyo serta kelompok arogan, haus darah, dan kekuasaan. Mereka penghianat kelompok samurai. Tapi, Harimau Buas di Kozan, julukan Shingen, dikenal pandai taktik diplomatik dan ahli politik. (hlm 9).
Kelicikan, kepicikan, dan kepandaian Shingen, menjadikan diri dan identitas kelompoknya sebagai samurai yang disegani dan ditakuti di jagat persamuraian. Kekuasaan, kekuatan ekonomi, wilayah, serta pasukan militer Shingen tak dapat tertandingi klan lain secara kuantitas, termasuk Uesugi beserta anak buahnya.
Tsun Zue, berkata, lebih baik mendapat musuh cerdas dari pada memiliki teman bodoh. Logika, insting, pengalaman, kekuatan pasukan dipadukan dalam kepemimpinan klan untuk menaklukkan Shingen. Kenshin berhadapan musuh tangguh “si Kaki Panjang”, julukan lain Shingen. Penyerangan Kastel Warigadake dari Shingen mempertemukan Kenshin pada perang tak biasa.
Perang fisik dan terselubung dijalankan demi melumpuhkan musuh yang dalam hitungan politik jauh lebih kuat. Shingen menguasai banyak negeri kecil, selain daerah pegunungan yang menjadi basis kekuatan pasukannya. Ladang ekonomi dan kekuatan militer berada di tangannya. Shingen adalah daimyo yang bermunafik, namun cerdik berpolitik. Penghianatan atas perjanjian damai di Kastel Warigadake dengan Kenshin, adalah bukti otentik kelicikan Shingen. Perjanjian damai empat tahun lalu pada tahun pertama era Eiroku (1558 M) antara pihak Echigo dan Kai seolah tak berarti karena penghianatan. Istilah lain perjanjian kosong menjadi abu (hlm 28).
Kekuasaannya mendorong Shingen melakukan banyak tipu muslihat. Dia mengelabuhi kawan, lawan, dan melemahkan otoritas Istana di Kyoto. Tujuannya merebut kekuasaan. Cerita novel ini tak hanya menggiring imajinasi pembaca pada pertarungan klan khas Jepang, tapi juga kisah daimyo dengan moral cerita yang mengagumkan. Ini dikemas dalam narasi, teks, dan simbol yang sarat makna.
Kenshin adalah simbol tokoh, pemimpin tangguh suatu klan (besar) Jepang. Ia pantang menyerah dalam mewujudkan impian untuk meninggalkan jejak langkah besar. Dia berani dan tabah. Pada usia 33, dia sudah pandai berpolitik dan berdiplomasi. Tak heran kalau dia menjadi pemimpin besar suatu klan.
Dari situ, taktik perang cerdik diperagakan Kenshin menghadapi musuh. Semangat samurai ia tanamkan pada diri dan pasukannya. Harga diri harus dipertahankan dari para musuh dan penghianat (baca: Shingen) harus ditebus dengan pengorbanan besar, nyawa sekalipun, perang terhadap diri sendiri dengan menghilangkan rasa takut.
Dikisahkan, suatu ketika, tanpa sepengetahuan banyak pasukan, Kenshin mengutus salah satu kepercayaannya, Saito Shimotsuke, untuk menghadap Shingen. Tentu Shingen heran, mengapa orang seperti Saito dengan perawakan fisik tak sempurna ditunjuk sebagai delegasi Kenshin berdiplomasi dengan Shingen.
“Tuan Shimotsuke, apa boleh aku tanya mengapa penguasa Echigo mengutus lelaki bertubuh kecil seperti Anda? Tanpa tersinggung, Shimotsuke menjawab, “Di negeri kami, Echigo, biasanya lelaki yang bertubuh besar dikirim ke negeri besar. Lelaki bertubuh kecil dikirim ke negeri kecil. Jadi, lelaki kerdil seperti akulah yang diutus ke negeri Anda.” (hlm 54).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar